(1)TINGKATAN YANG PERTAMA:
===========================
Syaikh Hamad bin Atiq Rahimahullahu ketika membahas firman Allah Ta'ala yang berbunyi:
"Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya."
📖[Qs: Al-Mumtahanah:60:4]
Beliau rahimahullah mengatakan:
Makna dari firman Allah yang berbuny بدا adalah ظهر (nampak)dan بان(jelas)dan maksudnya adalah terang-terangan untuk terus-menerus memusuhi dan membenci orang-orang kafir dan musyrik.
Barangsiapa telah merealisasikan ini dengan ilmu, amal dan telah menyatakan dengan terang-terangan sehingga penduduk negeri nya mengetahui nya, maka dia tidak wajib hijrah dari negeri mana saja dia berada."
Adapun orang yang tidak melaksanakan seperti itu, lalu dia menyangka bahwa apabila dia dibiarkan shalat, shaum,dan haji berarti telah gugur kewajiban hijrah baginya, maka ini merupakan BENTUK KEBODOHAN terhadap Deen dan KELALAIAN terhadap inti ajaran para Rasul.
Orang semacam ini apabila dia telah menyampaikan kebenaran dengan terang-terangan lalu dia diancam untuk dibunuh dan disiksa, sedangkan tidak ada negara yang dapat dia hijrahi, MAKA suri tauladan yang baik bagi nya adalah:
Ashhabul Kahfi ( orang-orang yang bersembunyi digoa) yang mempertahankan Deen-nya dan mereka melarikan diri ke gunung."
Dan ada suri teladan yang lain Yaitu: Ashhabul Ukhdud ( yang dibakar karena mempertahankan AQIDAH dan TAUHID mereka. Sedangkan mereka tidak merasa dan tunduk."
Dan ada suri tauladan pada sahabat-sahabat Nabi yang berhijrah, berjih4d, berp3rang dan terb00n00h. Dan cukuplah AllahTa'ala bagimu Robbmu sebagai pemberi petunjuk dan pembela."
2]. ORANG YANG LEBIH RENDAH TINGKATANNYA DARI YANG PERTAMA
Dia tidak mampu menempuh jalan yang dipenuhi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut,dia khawatir terhadap Deen-nya, namun dia tidak mampu untuk menyatakan dengan terang-terangan.
Maka dia Uzlah ( mengasingkan diri) dengan membawa kambing-kambing miliknya ditempat-tempat turunnya hujan ( lembah ) dan perbukitan.
Disana dia beribadah kepada Allah Ta'ala dan menyelamatkan Deen-nya dari fitnah ( ujian dan kerusakan).
3]. ORANG MUSTADH'AF/YANG LEMAH DAN TERTINDAS
Yang menutup pintu rumahnya dan konsentrasi pada urusan pribadi nya dan keluarganya.
✅Dia berusaha untuk menyelamatkan dan menjaga keluarga nya dari kesyirikan, dari orang-orang musyrik dan dari Nar ( neraka) yang bahan bakar nya adalah manusia dan batu.
✅Dia dia menjauhi dan memalingkan diri dari orang kafir.
✅Dia tidak menampakkan sikap ridho terhadap kebatilan mereka dan tidak pula mendukungnya dalam bentuk apapun.
✅Dan untuk menyelamatkan TAUHIDnya, hatinya harus tetap memendam permusuhan dan kebencian terhadap kesyirikan dan orang-orang musyrik.
✅Dia menunggu hilangnya penghalang dan mencari-cari kesempatan untuk lari menyelamatkan Deen-nya dan hijrah ke tempat yang lebih ringan kejahatannya, yang dia dapat melaksanakan Izharuddin sebagaimana hijrahnya para sahabat ke Habasyah (Ethiopia).
📗[Ad-Durar As-Saniyyah juz jihad hal:199]
4] ORANG YANG MENUNJUKKAN SIKAP RIDHO TERHADAP AHLUL BATHIL DAN BERMUDHAHANAH DENGAN KEDUSTAAN DAN KESESATAN MEREKA
Orang semacam ini ada 3 macam keadaannya:
Syaikh Hamad bin Atiq Rahimahullahu menyebutkan dalam kitabnya Sabilun Najat Wal Fikak hal:62 menjelaskan:
(1)KEADAAN PERTAMA
Dia mengikuti mereka baik lahir maupun batin, orang semacam ini kafir dan KELUAR dari Islam. Sama saja apakah dia dipaksa atau tidak. Dia termasuk dalam firman Allah Subhaanahu Wa Ta'ala:
"Akan tetapi barang siapa yang dadanya lapang terhadap kekafiran, maka baginya adalah murka dari Allah dan siksa yang besar." [Qs :An-Nahl:106]
(2)KEADAAN YANG KEDUA
Dia mengikuti dan cenderung kepada mereka dalam hati, namun secara zhahir dia menyelisihi mereka,ini juga kafir dan mereka inilah yang disebut orang-orang munafik.
(3)KEADAAN YANG KETIGA
Dia mengikuti mereka secara zhahir, namun hatinya tidak setuju dengan mereka, orang semacam ini ada dua macam:
Yang pertama:
Dia melakukan nya karena dia berada di bawah kekuasaan mereka dan mereka memukul, memenjarakan dan mengancamnya untuk dibunuh, dalam keadaan seperti ini dia boleh mengikuti mereka secara zhahir, namun hatinya tetap dalam keadaan beriman, sebagaimana yang terjadi dengan Ammar Radhiyallahu 'anhu."
Sebagaimana Allah Subhaanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah beriman, kecuali orang yang dipaksa, sedangkan hatinya tetap beriman."
📖[Qs : An-Nahl:106]
Kami katakan, dalam keadaan seperti ini hendaknya dia senantiasa berusaha untuk lari menyelamatkan Deen-nya, sebagaimana yang dilakukan para sahabat Nabi yang lemah dan tertindas dan senantiasa berdo'a dengan do'a:
"Yaa Robb kami, keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya zalim ini,dan jadikanlah bagi kami penolong dari sisi-Mu dan jadikanlah bagi kami pembela dari sisi-Mu."
📖[Qs: An-nisa:75]
والله اعلم...
Barakallahu fiikum...✏
Ghaida Al Faza🔪
#PelajariTauhid