Pernah suatu ketika Imam Bukhari bertemu dengan salah satu ulama perwawi hadis di suatu kota.
Ulama tersebut memiliki seekor kuda. Pada salah satu kesempatan, pemilik kuda tersebut membawa ember sambil menggiring kudanya. Dia mengatakan, “Ngger… Berdiri, nggeeer…. ” Kuda itu pun lantas berdiri mengikuti arahan empunya.
Imam Bukhari bertanya, “Ya Syekh, Apa di dalam ember itu ada makanan kuda sehingga kuda itu menurut padamu?” “Oh, tidak ada. Aku cuma membodohi kudaku. Ember ini kosong.”
Mendengar ucapa perawi hadis tersebut, Imam Bukhari pergi pamit. Beliau tidak mau meriwayatkan hadis dari beliau lagi.
Apa ibroh yang kita bisa ambil dari kisah diatas?? yaa...Dalam hal ini Imam Bukhari menunjukkan untuk berhati-hati dalam menerima ilmu. Seorang guru haruslah orang yang jujur.
Beliau mencontohkan untuk tidak sembarangan mencari guru. Bahkan seorang yang membohongi kuda pun tak diterima riwayatnya. Apalagi membohongi orang. Sebab bagaimanapun, orang kecerdasan intelektual tidak cukup dijadikan sumber pengetahuan.
Nah bagaimana dengan kita, terkadang kita sering menjadikan rujukan orang-orang yang tidak diketahui kredibel ilmu nya di sosmed ini, bahkan orang yang kita jadikan sebagai rujukan tidaklah lah paham akan tentang agama, bahkan maaf, mungkin sebagian orang akan tersindir, mereka tidak bisa bahasa Arab, tidak bisa baca kitab, tidak diketahui siapa gurunya, tidak tahu jebolan pesantren mana.. Lantas kita jadikan mereka sebagai rujukan..!?
Dengan hawa nafsu nya mereka berfatwa, mengatakan sifulan kafir, sifulan sesat, sifulan khawarij, sifulan murjiah. Bagaikan seorang mufti ahli hadits.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَلََ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُو لٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئوُْلًَ
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui ilmu nya... Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggung jawabannya... (QS. Al-Isra' 17: Ayat 36)
Dalam ayat ini Allah melarang mengikuti segala macam sesuatu yg tidak di ketahui ilmu nya... apapun itu bentuk nya.. dari mulai urusan dunia, lebih2 urusan akhirat... sehingga sangat betul jika Al ilmu qabl qaul wa amal, ilmu itu, sebelum berbicara dan beramal.
Rasulullah juga bersabda : Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu." (HR. Bukhari No. 6015)